negeri gajah putih (part 1)

Standard

wow postingan ini sangat terlambat,, berkali-kali ingin memulai menulis tapi tak pernah jadi,, aku ingin melanjutkan kisah di blog ini,, kalau kemarin sudah kuceritakan suasana hari H pernikahanku, sekarang berlanjut cerita kami selama 4 malam di Bangkok,,

kami berangkat 3 hari setelah pernikahanku,, naik maskapai Air Asia,, lama tempuh perjalanan dari Bandara Polonia menuju Bandara Don Mueang kira-kira hanya 2 jam,, lebih cepat daripada menuju Jakarta,, harga tiketnya pun lebih murah,, kami tiba malam hari di Bangkok,, pemandangan dari atas pesawat ketika akan mendarat adalah hamparan lampu-lampu kota Bangkok,, nampaknya Bangkok hampir sama padatnya dengan Jakarta,,

kami naik taxi bandara dengan tarif yang sudah ditentukan menuju hotel,, supir-supir taxinya nampaknya sudah biasa menghadapi orang asing, kami bercakap-cakap dengan bahasa inggris seadanya, asal paham,, aku sudah menyiapkan kertas bertuliskan nama hotel dan alamatnya agar si supir bisa membaca sendiri,,

kami menginap di daerah Sukhumvit,, nama hotelnya Loft 77,, kalau dirupiahkan waktu itu tarifnya hanya sekitar 300 ribu semalam,, modelnya hotel butik sekelas Amaris kalau di Indonesia,, kami memesannya lewat situs booking.com dan baru membayar tunai setelah check in,, kamarnya lumayan luas dan modern,, bersih,, pegawainya ramah,,

pagi pertama kami bersiap untuk menikmati kota Bangkok,, aku memang ingin menikmati situs-situs candi dan merasakan semua jenis kendaraan di kota ini,, setelah sarapan kami menanyakan rute jalan dan kendaraan serta ongkos kepada pihak hotel,, kami naik sejenis oplet yang disebut minibus oleh warga Bangkok,, ongkosnya 7 baht,, saat itu 1 baht dikurs dengan harga 320 rupiah,, kami menuju stasiun skytrain atau disebut BTS,,

skaytrainnya luar biasaaaa,, pagi itu rasanya semua pekerja bergerak dengan cepat keluar masuk skytrain,, tak perlu lama menunggu satu kereta dan kereta lain,, selisihnya mungkin hanya 1-2 menit saja,, dan selalu nyaris penuh,, hal ini menandakan skytrain sudah sukses menjadi alat transportasi massal bagi kota Bangkok,, terbayang bila tak ada skytrain maka akan semacet apa kota ini,, tiketnya pun sudah menggunakan kartu elektronik yang dicetak sesuai jurusan yang kita inginkan,, perjalanan kereta ini sangat cepat,, wuuuuuussss,,

edit3

edit2

edit4

kami pun turun di sebuah stasiun, kami bertanya pada seseorang di depan 711 bagaimana cara menuju ke Grand Palace,, orang tersebut mengatakan sebaiknya kami mengikuti tur air saja,, nantinya akan dibawa ke sejumlah tempat termasuk Grand Palace,, kami setuju dan pria tersebut memanggilkan tuktuk serta menawarnya untuk kami,, tuktuk adalah sejenis becak motor di Bangkok,, ongkosnya harus ditawar, bisa berkisar mulai 5 baht sampai 25 baht bila agak jauh,,

edit5

bergaya dengan mamang tuktuk,,

perjalanan dengan perahu ini memang cukup mahal, namun karena mengunjungi beberapa tempat, kami rasa layak,, dengan perahu kecil dan hanya kami berdua saja, kami menyusuri sungai Chao Phraya, sungai dengan panjang 372 km yang membelah kota Bangkok,, perhentian pertama kami adalah Wat Arun di tepi barat Chao Phraya,, perahu akan menepi dan akan menunggu kami lebih kurang 30 menit,,

edit10

kami harus membeli lagi tiket masuk ke Wat Arun,, nama lengkap candi ini adalah Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara (วัดอรุณราชวรารามราชวรมหาวิหาร),, tak usah mencoba melafalkan bila susah,, biaya masuknya 50 baht per orang,, Arun berarti fajar (berasal dari nama Aruna, Dewa Fajar Mitologi Hindu),, yang bisa dilihat di sini adalah sebuah pagoda bergaya Khmer setinggi 80 meter pada bagian tengah dan 4 pagoda berukuran kecil disekelilingnya,, di sekitar lantai bawah pagoda terdapat berbagai patung tentara Cina kuno dan hewan,, di atas teras kedua terdapat empat patung dewa Hindu Indra yang sedang menaiki Erawan,,

IMG_8000

edit8

edit6

edit7

IMG_8047

IMG_8019

IMG_8027

IMG_8024

IMG_8029

IMG_8030

IMG_8041

kami pun meninggalkan Wat Arun,, pengemudi kapal mengajak kami kembali menelusuri Chao Phraya,, sebelumnya kami tadi sempat membeli makanan ikan,, makanan nya berupa pinggiran roti tawar berwarna coklat,, nah makanan itu akan kami berikan pada ikan-ikan di Chao Phraya yang jumlahnya sangat banyak dan ukurannya besar-besar,,

edit9

setelah puas memberi makan ikan, kami pun diajak kembali menelusuri Chao Phraya,, kondisi sungai ini tak bisa dikatakan bersih,, air nya juga berwarna coklat, hampir mirip dengan sungai di Jakarta,, sesekali juga bisa ditemukan sampah yang mengapung walau tak seajaib Ciliwung,, namun sepanjang perjalanan pemandangannya sangat menarik,,

pengemudi perahu mengantar kami ke sebuah perhentian terakhir,, dari sini kami bisa berjalan kaki menuju Grand Palace,, namun ternyata setelah kami bertanya ke beberapa orang, Grand Palace hanya terbuka bagi pengunjung pada jam-jam tertentu saja dan harus berpakaian sopan karena merupakan tempat tinggal Raja Thailand,, kami melihat pakaian kami sendiri, dan terdiam,, *sialan, kenapa kagak browsing dulu ya tadi,,*

tanpa dosa kami pun melipir mencari tuktuk menuju sebuah candi lainnya,, namanya apa ya,, ah lupaaa,, namanya juga desperado karena batal masuk Grand Palace,, sialnya lagi eeeh ternyata candi yang kami datangi ini sedang dalam tahap renovasi,, *bunuh diri*,, tapi ketika kami hendak mengurungkan niat, seseorang pria berusia 40an memanggil kami dan mengajak kami berkeliling,, dengan sangat bersemangat pria tersebut menceritakan bahwa dirinya diminta pihak kerajaan untuk membantu memimpin proyek renovasi ini,, dia menjelaskan mengenai desain candi,, mengapa warna-warna Thailand identik dengan emas, merah (rubi), biru (saphire) dan hijau (emerald),,  bahkan kami terlibat percakapan menarik saat membahas sejarah Thailand yang dulu dikenal dengan nama Siam,, aku menyukai pria tersebut,, bahkan dia menebak bahwa kami baru menikah,, ia menyarankan suamiku membelikanku blue saphire yang menurutnya berarti : long life, long love and prosperity,, dia pun percaya suatu saat kami akan kembali ke Thailand,, kami mengamini perkataannya,,

edit13

IMG_8182

IMG_8183

tuktuk kami mengarahkan kami ke toko perhiasan di lingkungan kerajaan,, karena ingin mengamini doa pria tadi, kami pun membawa pulang sebuah liontin blue saphire,,

dengan sisa kekuatan yang ada, kami berlanjut ke Pratunam Market,, nah bila ingin membeli oleh-oleh dengan harga yang relatif terjangkau, pasar ini bisa jadi pilihan,, harganya akan sesuai dengan kemampuan menawar kita,, dengan bahasa inggris pas-pasan, maka adegan tawar menawar akan terlihat seperti dua monyet sedang berkelahi,,

Pratunam_Market-Pratunam_Market-20000000001545344-500x375

IMG_4490

perjalanan kami hari pertama sangat melelahkan,, namun kami puas dalam satu hari bisa mengunjungi banyak tempat,, perjalanan hari berikutnya akan kuceritakan di postingan berikutnya ya,, keep reading!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s